Swing mood

Beberapa hari yang lalu ada seorang teman yang bilang kalau moodku itu swing. Sejenak diam, maksudnya?. Oh nama lain moody. Apa iya aku seperti itu? Sepertinya iya.

Jadi gini, dua tahun yang lalu aku dihadapkan dengan kenyataan yang tidak sesuai ekspektasi. Gagal snmptn, gagal sbmptn, gagal mandiri, gagal kedokteran, gagal stan, dan gagal lainnya. Gagal di keinginanku. Tapi alhamdulillah masih lulus di ujian lainnya. Saat itu mau-nggak-mau (dengan perdebatan hebat sebelumnya) aku lanjutkan studiku di yang ketrima ini. Yaa di kebidanan. Diploma empat cuy, sangat-sangat bagus. Terbaik pula. Tapi tapi dan tapi dari awal memang sudah tidak sesuai, sudah tidak ingin melanjutkan. Apalah daya. Ternyata di sana dihadapkan dengan lingkungan yang, ah aku sudah tidak mau mengungkit. Intinya seperti itu.

Tiap hari, tiap waktu dihadapkan dengan ke-tidak-cocokan perspektif. Selalu ingin meluapkan amarah. Tapi kalau dipikir, "kalau aku menanggapi mereka, apa bedanya aku sama mereka". That's a point. Akhirnya aku sering memilih diam. Aku dengarkan dulu ocehannya. Sambil memikirkan solusi yanh sekali ucap, kalah telak mereka. Dewa haha. Sampai suatu hari merasa amarah yang aku pendam terlalu besar. Seperti sudah tidak ada ruang untuk menyimpan. Hiyaa kok jadi puitis. Akhirnya aku luapkan semuanya. Buruk memang.

Dengan masa lalu seperti itu, nggak tau gimana prosesnya, kenapa bisa gini. Sekarang kalau ada orang yang beda perspektif, beneran cuma diam. Mungkin akan tetap aku sampaikan ke orang terdekat. Tapi tidak sampai yang membara gitu, seperti orang kebakaran. Lalu dengan diam kamu puas Is? Nope. Beneran nahan banget. Sakit banget rasanya ketika nahan amarah, kecewa, cemburu, atau yang lain. Kadang bisa nahan dengan baik dan rapi. Tetap senyum, ceria, semua baik-baik saja. Tapi sayangnya kadang juga masih belum bisa seperti itu. Yang aku takutkan orang lain jadi sasaran empuk atas swing moodku ini. Kan nggak boleh ya. Saran buat diri sendiri; terus coba lebih dewasa, memakai akal pikiran. Kalau ada masalah dipikir secara logis. Ingin menjadi perempuan yang tidak seperti kebanyakan perempuan, hanya memakai hati. Memang kodrat perempuan seperti itu, lebih perasa, tapi aku rasa tetap bisa dikontrol.

Jadi poinnya? Ya aku memang swing mood, itu manusiawi. Tinggal ini gimana aku mengontrolnya. Oiya terimakasih masa lalu, maaf pernah merasa tidak berguna, maaf pernah menganggap tidak penting. Ternyata, "iya juga ya". Masih suka sadar di akhir cerita, untung tersadarkan. Jangan sampai terulang ya.

Comments